Logika Bengkok
Oleh AM Lilik Agung
Media Indonesia - Komunikasi Bisnis
(23/01/2001 00:20 WIB)
SEORANG
kawan bernama Andrias Harefa dalam berbagai forum sangat suka menyitir pendapat
Larry Ellison. Larry, bos Oracle, pada bulan September 2000 diundang oleh Yale
University untuk memberi sambutan wisuda sarjana. Kata Larry, seperti disitir
Harefa ``Saya berbicara di forum ini bukan untuk Bapak-Ibu yang duduk di
sebelah kanan saya. Atau kepada mahasiswa-mahasiswa yang duduk di depan saya.
Saya berbicara untuk mahasiswa yang berdiri di ujung sana.`` Bapak-Ibu yang
dimaksud Larry adalah para guru besar Universitas Yale. Sedang mahasiswa yang
tepat di depannya adalah mahasiswa yang hendak diwisuda. Sedangkan kerumunan
mahasiswa yang berdiri di ruang belakang merupakan mahasiswa yang masih kuliah.
``Universitas
adalah lembaga yang membunuh kreativitas secara sistematik. Kalau Anda ingin
sukses, cepat tinggalkan bangku kuliah. Belajarlah sendiri. Lahaplah buku-buku.
Otak-atiklah ilmu pengetahuan. Jangan kuliah!`` kata Larry Ellison mantap.
``Dan Anda yang mau diwisuda, gaji Anda besok tidak lebih dari US $ 200.000. Lebih dari itu, yang
menggaji Anda adalah orang-orang yang drop out kuliah.``
``Saya
tidak sedang membual. Tapi lihatlah fakta. Siapa orang yang paling kaya
sedunia? Bill Gates. Dia drop out kuliah. Yang terkaya nomor dua? Saya, Larry
Ellison. Saya juga tidak lulus kuliah. Terkaya ketiga? Paul Allen, manusia yang
tidak jelas kuliahnya. Terkaya keempat? Michael Dell. Apakah Dell lulus kuliah?
Tidak. Jadi kalau ingin sukses, jangan kuliah!`` Gemparlah Universitas Yale dan jagat
pendidikan tinggi seluruh dunia lantaran ucapan Larry.
Bill Gates, Larry Ellison,
Paul Allen, Michael Dell memang manusia-manusia fenomenal. Dalam usia yang
belum genap 40, mereka sudah menjadi orang-orang terkaya dunia. Kekayaan Bill
Gates ditaksir sebesasr US$53 miliar, Larry Ellison US$52,1 miliar, sedangkan
Paul Allen dan Michael Dell tak jauh dari US$50 miliar. Mereka manusia yang tak
lulus kuliah. Namun perusahaan milik mereka banyak mempekerjakan
manusia-manusia terbaik lulusan universitas terbaik. Apakah sukses bisnis harus
dilalui dengan jalan drop out kuliah?
Sukses bisnis memang tidak selalu
ekuivalen dengan sukses pendidikan. Banyak orang yang terbatas pendidikannya,
namun sukses berbisnis. Lantas bukan berarti kalau ingin sukses berbisnis harus
berhenti kuliah. Pernyataan Larry Ellison memang terlalu provokatif. Benar dia
dan kawan-kawannya tidak lulus kuliah. Namun harus pula diingat, hampir seluruh
program dan teknologi yang dipakai perusahaan mereka hasil riset universitas
terkemuka di Amerika, terutama MIT University.
Di sisi lain banyak kepongahan
dilakukan lembaga pendidikan tinggi dalam menyikapi perkembangan bisnis
mutakhir. Salah satu kepongahan itu ditunjukkan dengan ketertinggalannya
kurikulum pendidikan tinggi beserta buku-buku literatur yang nyaris masih
terpukau pada kondisi bisnis tahun 80-an. Demikian pula dengan para pengajarnya
yang lebih suka konsep-konsep lama bisnis ketimbang mempelajari apalagi mencipta
konsep-konsep bisnis baru. Akibat kepongahan lembaga pendidikan tinggi, hasil
akhir bernama manusia sarjana ikut-ikutan pongah.
Gelar akademis yang disandangnya
seakan-akan menjadi jaminan utama untuk sukses mengelola bisnis. Padahal,
berapa banyak manusia bergelar sarjana ekonomi manajemen yang mampu menjadi
manajer andal?
Kritikan Larry Ellison terhadap
kualitas pendidikan tinggi memang pantas dicermati. Namun anjuran Larry agar
meninggalkan bangku kuliah, patut ditanggalkan. Bangku kuliah, walaupun kedodoran
mengejar kemajuan peradaban, masih memberikan kepada peserta didiknya untuk
berpikir metodis, rasional, dan terstruktur. Berpikir metodis, rasional, dan
terstruktur, hal demikian yang kini dijalankan oleh pelaku-pelaku bisnis
sukses. Apalagi dengan ikut `campur tangannya` teknologi informasi di dalam
bisnis yang menuntut berpikir rasional.
Larry Ellison yang tinggal di Amerika
mengkritik sistem pendidikan bisnis di Amerika, walaupun pendidikan bisnis
terbaik di bumi ini tetap Amerika. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana
kritikan Larry Ellison bila melihat sistem pendidikan bisnis di negeri kita.
Dengan uang Rp 5 juta, kita dapat menyandang gelar MBA. Ditambah uang Rp 10
juta lagi, di depan nama kita tertempel gelar Dr. Sebuah jual-beli gelar yang
kita yakini tidak ada dalam ilmu marketing mana pun.
Proses jual-beli memang lazim dalam
kehidupan ini. Namun menjadi tidak lazim manakala produk dalam jual-beli ini
berupa gelar. Terlebih lagi gelar-gelar tersebut berada dalam wilayah bisnis.
Master of Business Administration (MBA) dan Magister Management (MM) merupakan
gelar prestisius yang diharapkan penyandangnya mampu mengelola organisasi
bisnis. Dalam kurikulum MBA dan MM tidak saja diajarkan strategi bisnis, tapi
juga etika bisnis sehingga kelak bisnis yang ditangani etis dan profesional.
Logika bengkok sekarang banyak dipakai
oleh manajer bisnis. Mereka ingin disebut profesional, sementara gelar-gelar
yang disandangnya tidak profesional. Mereka ingin dipandang sebagai manusia
terhormat, sementara tempelan gelarnya diperoleh tidak dengan cara terhormat.
Mereka ingin disanjung sebagai manajer beretika, sementara gelar-gelarnya jauh
dari prinsip-prinsip etika akademik.
Gelar yang merupakan buah dari proses
pendidikan, sekali lagi, tidak ekuivalen dengan kesuksesan bisnis. Alangkah
malangnya manajer-manajer yang sekarang berburu gelar, sementara cara
berburunya tidak lazim. Lebih malang lagi bila gelarnya dengan bangga ditempel
di kartu namanya, sementara cara kerjanya jauh dari sikap-sikap profesional.
Profesionalisme bisnis tidak diukur
dengan berderet-deret gelar yang tertempel di namanya. Profesionalisme bisnis
ukurannya sederhana; mampu membuat untung perusahaan, meningkatkan
kesejahteraan karyawan, bertanggung jawab sosial, ikut memajukan negara yang
semua itu dibingkai melalui cara kerja etis. Titik!
*)Penulis adalah praktisi
bisnis, mitra Institut Darma Mahardika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar